100 Hari Bercerita

Selalu catat semua ide, jangan terlalu banyak berpikir, dan tidak usah ingin sempurna.

Ivan Lanin
3 min readApr 3, 2023

--

Foto: James Frid/Pexels

Hari ini, 4 April 2023, adalah hari ke-100 sejak saya mulai menulis satu cerita setiap hari di Medium.

Saya tidak menyangka bisa beristikamah menulis tiap hari selama itu. Tadinya, saya pikir hanya sanggup konsisten menulis selama 30 hari berturut-turut — batas tantangan menulis yang sering dikampanyekan. Sekarang, menulis tiap hari makin tidak menjadi beban. Bahkan, rasanya ada tugas rutin yang belum tuntas kalau saya belum menulis pada hari itu.

Niat menulis rutin tiap hari muncul setelah mengikuti kelas Mas Sulak, A.S. Laksana. Kebetulan, saat itu menjelang tahun baru (26 Desember 2022). Saya berpikir, “Ini resolusi yang bagus untuk 2023. Saya ingin menulis tiap hari selama 365 hari.” Tanpa banyak persiapan, saya membuat tulisan pertama.

Awalnya, saya ingin menumbuhkan kebiasaan menulis pada pagi hari. Namun, keinginan itu pupus di tengah jalan karena saya lebih memilih untuk merutinkan penerbitan tulisan pada pukul enam pagi. Tujuannya agar tulisan saya dapat menjadi bacaan ringan yang menemani pembaca saat mulai beraktivitas. Agar dapat terbit pukul enam pagi, saya harus membuat tulisan harian minimal sehari sebelumnya.

Selama 100 hari ini, ada tiga pelajaran penting yang saya peroleh, yaitu (1) selalu catat semua ide, (2) jangan terlalu banyak berpikir, dan (3) tidak usah ingin sempurna.

1. Selalu Catat Semua Ide

Dahulu, saya meremehkan ide. Ketika ia muncul, saya tidak menyambutnya dengan baik. Saya membiarkannya mengambang dalam benak. Sekarang, saya selalu menangkap semua ide — sekecil apa pun ia dan kapan pun ia terbit — dalam bentuk catatan. Catatan ide yang saya buat biasanya berupa frasa pendek atau pertanyaan, misalnya “eksonim dan endonim” atau “bagaimana cara membuat nawala”.

Ide merupakan pijakan awal tulisan. Segala sesuatu yang kita temui sehari-hari dapat menjadi ide tulisan. Niat menulis tiap hari membuat saya harus memastikan bahwa saya tidak pernah kehabisan ide. Saya pun membuat catatan bank ide tulisan yang bersumber dari bacaan, obrolan, amatan, pengalaman, atau renungan.

2. Jangan Terlalu Banyak Berpikir

Dahulu, saya menunggu ide cemerlang sebelum mulai menulis. Saya memeras otak untuk mencari ide yang akan menggegerkan dunia. Sekarang, saya langsung menuangkan ide apa pun menjadi tulisan. Yang penting ada dulu tulisannya. Setelah tulisan terwujud, saya dapat menata ulang letak kalimat dan pilihan kata untuk membuat tulisan lebih mengalir dan enak dibaca.

Saya kerap membayangkan saya sedang berbicara kepada orang lain untuk menjelaskan suatu ide. Ketika berbicara, kita tidak punya banyak waktu untuk berpikir. Menulis berdasarkan apa yang akan kita sampaikan melalui ucapan untuk ide yang sama akan membuat kita dapat menulis dengan lebih cepat. Kadang-kadang, saya merekam omongan saya untuk kemudian disalin menjadi tulisan.

3. Tidak Usah Ingin Sempurna

Dahulu, saya ingin menguraikan semua aspek dari sebuah ide dalam satu tulisan. Ketika ingin menulis tentang plagiarisme, misalnya, saya mengulik sebab dan akibatnya, jenis-jenisnya, dan cara penanganannya. Sekarang, saya mencoba realistis terhadap waktu. Saya memberi waktu 1,5 jam untuk menyelesaikan satu tulisan. Untuk memenuhi sasaran waktu itu, saya kerap memangkas aspek yang dibahas dari sebuah ide.

Penuangan ide menjadi tulisan merupakan sebuah proses. Proses itu makin lancar seiring dengan makin seringnya ia diulang. Itulah yang menjadi sasaran saya sekarang. Biarkan kesempurnaan menjadi hasil yang dipupuk secara perlahan. Lagi pula, tak ada gading yang tak retak. Tulisan yang tidak sempurna, tetapi selesai, lebih baik daripada tulisan yang sempurna, tetapi tidak pernah selesai.

Menulis tiap hari sudah menjadi kebiasaan bagi saya. Saya merasa kini makin mudah menuangkan pikiran menjadi tulisan 400–500 kata dalam waktu 1,5 jam. Lancar kaji karena diulang.

Catatan: Pedoman EYD menyatakan bahwa angka tidak boleh diletakkan pada awal kalimat. Saya menggunakan angka pada awal judul tulisan ini sebagai penerapan lisensi artistik pada tulisan blog. Saya tidak mengawali kalimat pada tulisan bisnis, ilmiah, atau hukum dengan angka.

Lebih indah “100 Hari Bercerita” daripada “Seratus Hari Bercerita”, kan?

Tingkatkan keterampilan berbahasa Anda melalui kelas Narabahasa, baik yang diadakan secara langsung (sinkron) maupun melalui rekaman (asinkron). Kunjungi toko daring kami di Shopee dan Tokopedia untuk memperoleh buku-buku dan pernak-pernik kebahasaan yang menarik.

--

--

Ivan Lanin

Wikipediawan pencinta bahasa Indonesia yang belajar bercerita setiap hari