Member-only story
Manajemen
PDCA dan Menulis Harian
#990: Dari Sekadar Menjalankan hingga Mengembangkan
Saya selalu merasa tahap paling sulit dalam pekerjaan adalah merencanakan. Pikiran sering meloncat terlalu jauh, padahal rancangan di atas kertas belum juga terbentuk. Dalam menulis harian, saya kerap langsung membuka layar dan mengetik tanpa tahu ke mana arah karangan akan berlabuh. Beruntung, konsep PDCA menolong saya memahami bahwa perkembangan tidak terjadi sekaligus, melainkan melalui tahapan.
🔑 Lanjutkan membaca dengan mengklik tautan teman ini.
Saya pertama kali mengenal PDCA (plan–do–check–act) saat menjadi konsultan ISO 9001. Siklus ini menjadi dasar sistem manajemen mutu: plan berarti merencanakan, do menjalankan, check memeriksa, dan act memperbaiki. Keempat tahap itu membentuk lingkaran perbaikan berkelanjutan. PDCA bukan hanya alat manajemen mutu organisasi besar, melainkan juga bantuan berharga untuk kebiasaan pribadi, termasuk menulis.
Pada awalnya, orang cenderung langsung menulis. Apa pun bentuknya, yang penting selesai. Catatan bisa melompat-lompat, ejaan berantakan, atau alur tak jelas. Itu bukan masalah besar. Tahap do memang tentang keberanian memulai. Sama seperti banyak hal dalam hidup, permulaan sering lebih penting daripada kesempurnaan.
