Member-only story
Refleksi
Menulis Tanpa Selebrasi
#951: Menjelang Tonggak Pencapaian
Sebentar lagi saya akan mencapai tonggak yang mungkin mengesankan, yaitu seribu tulisan beruntun. Beberapa hari lalu, seorang teman bertanya, “Bagaimana perasaanmu?” Saya sempat terdiam, lalu menjawab, “Biasa saja.” Tidak ada letupan semangat, tiada pula rasa lega. Yang ada hanya satu tulisan lagi hari ini, seperti kemarin, seperti besok.
🔑 Lanjutkan membaca dengan mengklik tautan teman ini.
Barangkali begini juga rasanya pelari maraton ketika melihat garis finis. Langkah tetap bergerak, tubuh tahu harus maju, tetapi kepala justru tenang. Tidak ada dorongan besar, tetapi juga tidak ada keraguan. Yang tersisa hanyalah gerak yang mantap, yang lahir dari kebiasaan yang sudah terbangun lama.
Tulisan-tulisan saya tidak selalu panjang, tidak juga selalu penting. Namun, satu hal yang tidak pernah berubah ialah selalu ada satu yang terbit setiap hari. Menulis telah menjadi seperti menyikat gigi—tidak selalu menyenangkan, tetapi terasa janggal jika dilewatkan.
Tubuh seperti sudah hafal geraknya, tanpa perlu ditanya lagi apakah hari ini ingin menulis atau tidak. Pukul sepuluh malam, apa pun yang sedang dilakukan, saya pasti menghentikan segala kegiatan untuk menulis. Bahkan, ketika semangat tiada pun, tangan tetap…
