Kecanduan Gim

Jangan biarkan akal sehat dikalahkan candu.

Ivan Lanin
3 min readApr 2, 2023

--

Gambar: Charlie Intel

Saya senang main gim, terutama gim strategi, bahkan sampai kecanduan. Gim terakhir yang membuat saya kecanduan ialah Rise of Kingdoms (ROK). Kecanduan itu terjadi selama kurang lebih enam bulan antara Maret s.d. Agustus 2022.

Waktu mahasiswa, saya juga sempat kecanduan Championship Manager (CM) dan Age of Empires (AOE). Candu itu begitu kuat hingga saya sering mengeram beberapa hari di rumah kontrakan. Kalau pacar saya menelepon ke kontrakan, saya minta teman-teman sekontrakan untuk bilang bahwa saya sedang tidur atau pergi. Kalau dia datang, saya bersembunyi di lemari atau di kamar lain. Indahnya masa-masa itu.

Kehadiran gim ponsel membuat saya hampir terperangkap lagi dengan candu gim. Saya mulai memainkan Candy Crush Saga karena tertular istri saya, Nanda. Eh, saya malah lebih sering dan jago main gim itu daripada dia. Kalau macet pada sebuah level, Nanda sering meminta bantuan saya.

Itulah yang membuat saya tidak bisa langsung menegur anak saya, Arka, ketika dia mulai tampak terlalu sering bermain gim. Saya salah, sih. Saya sempat bercerita kepadanya tentang kecanduan saya terhadap gim saat mahasiswa yang membuat saya kucing-kucingan dengan pacar saya ketika itu. Syukurlah, pacar saya itu pantang menyerah. Namanya Nanda, ibu Arka.

Gim membuat kita melupakan realitas. Katanya, ada hormon dopamin yang dilepaskan tubuh saat kita bermain gim. Hormon inilah yang menimbulkan rasa senang. Pembuat gim juga berupaya keras membuat gim menarik bagi pemainnya. Desain yang menarik, iming-iming pencapaian, dan interaksi sosial merupakan beberapa hal yang digunakan pembuat gim untuk mengikat para pemain gim.

Pada Maret 2022, saya melihat iklan ROK di Facebook. Saat itu saya sedang mencari pengisi waktu tirah baring (bed rest). Pada awalnya, saya berniat hanya akan memainkan gim itu sesekali. Saya juga bertekad tidak akan melakukan pembelian dalam aplikasi (in-app purchase/IAP). Candu gim pelan-pelan memupus niat dan tekad saya.

Setelah sembuh, saya masih memainkan ROK. Hampir tiap waktu luang saya gunakan untuk bermain ROK atau mencari kiat memainkannya. Oh, ya. Saya tipe orang yang senang mencari rujukan, bahkan untuk bermain gim. Saya banyak sekali membaca tulisan dan menonton video tentang ROK. Tampaknya plus mata saya bertambah karena itu. Untunglah, tidak lama kemudian muncul versi desktop ROK dengan lebih ramah mata.

Saya juga mulai mengeluarkan uang untuk IAP. ROK sebenarnya dapat dimainkan tanpa IAP, tetapi IAP memberikan banyak keunggulan, seperti tokoh khusus atau tambahan sumber daya. Pemain yang mengeluarkan uang untuk bermain (pay-to-play/PTP) lebih digdaya daripada pemain gratisan (free-to-play/FTP). Saya membuat justifikasi kepada diri sendiri bahwa harga IAP yang rata-rata Rp79 ribu itu tidak besar.

Dari hanya sekitar 30 menit sehari, saya sempat menghabiskan waktu hingga empat jam sehari untuk bermain ROK. Dari hanya satu pembelian per pekan, saya sempat tidak tahan untuk mengambil lebih banyak IAP. Saya kecanduan gim. Saya pikir negara saya akan lebih hebat dengan waktu dan uang yang lebih banyak. Saya kehilangan akal sehat.

Akal sehat saya kembali pada Agustus 2022 ketika menonton sebuah video tentang ROK. Pada video itu, seorang naravlog YouTube (YouTuber) dari Amerika Serikat (AS) mengaku bahwa ia sudah bermain ROK selama lebih dari tiga tahun dan rata-rata menghabiskan lebih dari seribu dolar AS (sekitar 15 juta rupiah) tiap pekan. Video itu membuat saya sadar bahwa, sebanyak apa pun waktu yang saya luangkan dan uang yang saya keluarkan, saya tidak akan pernah dapat menyainginya.

Setelah menonton video itu, saya tercenung. Saya menyesali waktu dan uang yang mestinya dapat dimanfaatkan untuk hal lain. Saya hapus ROK dari ponsel, laptop, dan hidup saya. Saya berhasil lepas dari cengkeraman candu gim!

Dua hari yang lalu, iklan ROK muncul lagi di Facebook saya. A’użu billahi minasyaiṭānirrajīm.

Catatan: Nama gim saya tulis dengan huruf miring mengikuti aturan yang lazim diterapkan berbagai gaya penulisan. EYD belum menetapkan kaidah penulisan nama gim.

Tingkatkan keterampilan berbahasa Anda melalui kelas Narabahasa, baik yang diadakan secara langsung (sinkron) maupun melalui rekaman (asinkron). Kunjungi toko daring kami di Shopee dan Tokopedia untuk memperoleh buku-buku dan pernak-pernik kebahasaan yang menarik.

--

--

Ivan Lanin

Wikipediawan pencinta bahasa Indonesia yang belajar bercerita setiap hari