Member-only story
Memoar
Jejak Guru Pemrograman
#983: KISS, DRY, dan YAGNI
Karier saya diawali di Trabas dan Hylabs, dua perusahaan pengembang perangkat lunak. Dari sanalah kenangan pada Reza dan Hans, dua rekan dan guru pemrograman saya, melekat erat hingga kini. Mereka jarang berbicara, sangat pintar, dan gemar bekerja hingga larut malam di tengah ruang gelap dengan hanya ditemani cahaya dari layar komputer. Dari keduanya, saya belajar disiplin diam-diam yang membekas.
🔑 Lanjutkan membaca dengan mengklik tautan teman ini.
Di Trabas, Reza menekankan pentingnya membuat program sesederhana mungkin. Perangkat keras kami terbatas, waktu kami singkat. Ia mengingatkan bahwa solusi yang baik adalah yang bisa jalan tanpa rumit. Dari dialah saya belajar bahwa keep it simple, stupid (KISS) bukan sekadar slogan, melainkan kebutuhan nyata. Prinsip KISS memberi saya pelajaran bahwa kejernihan lebih sulit daripada kerumitan, tetapi justru lebih abadi.
Hans di Hylabs punya kebiasaan berbeda. Ia tidak suka melihat kode berulang. “Sekali tulis, berkali-kali pakai,” katanya. Dari Hans, saya menyerap semangat don’t repeat yourself (DRY). Prinsip itu membuat saya gemas melihat pola sama ditulis ulang. DRY bukan hanya soal teknis, melainkan cara menjaga kerapian dan kejelasan berpikir. Ia melatih saya mengikat keputusan di satu tempat…
