Sitemap

Member-only story

Refleksi

Bubur Saya Diaduk

#947: Sarapan yang Memecah Belah Bangsa

3 min readJul 29, 2025
Press enter or click to view image in full size
Ilustrasi: Zaky Hadi/Unsplash

Bagi saya, bubur yang tidak diaduk hanya menyatukan bahan di satu wadah tanpa benar-benar meleburkan rasa. Makan bubur tanpa diaduk seperti pertemuan yang cuma formalitas. Suwiran ayam, potongan cakwe, irisan daun bawang, dan siraman kuah kaldu akan lebih berarti jika bersatu di setiap sendok, tidak sekadar berdampingan dalam mangkuk seperti tetangga yang jarang menyapa.

🔑 Lanjutkan membaca dengan mengklik tautan teman ini.

Saya pernah mengadakan jajak pendapat (japat) di X (dulu Twitter), “Untuk menikmati bubur ayam, mana yang Anda pilih?” Ada 1.458 orang yang memberikan suara dengan hasil yang nyaris seimbang: 50,3% memilih bubur diaduk, sedangkan 49,7% memilih jalan hidup yang, yah, sulit saya pahami, tetapi tetap layak dihormati. Mungkin beginilah rasanya menjadi panitia pemilu dengan hasil yang tidak mutlak, tetapi tetap harus diumumkan dengan mantap.

Beberapa tanggapan lebih menghibur daripada hasilnya. Seorang warganet menyebutnya “Prelude to Civil War”. Yang lain menulis, “Pertarungan sengit 👀” Ada yang berkata, “Diaduk lebih merata rasanya,” dan seorang netizen lain menyesali keterlambatannya berkomentar, “Duh telat #timgadiaduk.” Salah satu yang paling sederhana, tetapi mengena, adalah respons, “Imbang, Mas,” diakhiri…

--

--

Ivan Lanin
Ivan Lanin

Written by Ivan Lanin

Wikipediawan pencinta bahasa Indonesia yang berlatih bercerita setiap hari