InBerbagi & BerdampakbyIvan Lanin·7h agoSebuah Kata Bernama “Terbarukan”#1297: Bahasa, Teknologi, dan Jalan Panjang Energi IndonesiaA response icon1A response icon1
InCerita Uang & PerekonomianbyIvan Lanin·1d agoCermin dari Banyak Arah#1296: Pantulan yang Tak Selalu Nyaman Dilihat
InRuang KontemplasibyIvan Lanin·2d agoBelajar Menulis Kalimat Puitis#1295: Enam Malam, Enam Adegan, dan Kepala BerdenyutA response icon2A response icon2
InMaratontonbyIvan Lanin·3d agoHati Dahulu, Kaidah Kemudian#1294: Menulis, Melanggar, dan Saling Menemukan dalam Finding ForresterA response icon2A response icon2
InMari JelajahbyIvan Lanin·4d agoMedan Tempur dan Mesin Kemajuan#1293: Perang yang Memaksa Kelahiran Masa DepanA response icon1A response icon1
InKomunitas Blogger MbyIvan Lanin·5d agoBusuk atau Berubah?#1292: Batas Tipis FermentasiA response icon3A response icon3
InBahas BahasabyIvan Lanin·6d agoBahasa sebagai Barang Bukti#1291: Memahami Linguistik Forensik dari Kata hingga Konteks
InBerbagi & BerdampakbyIvan Lanin·Jul 7Jalan yang Memaksa Melambat#1290: Kisah Aspal, Beton, Konblok, dan Andesit
InCerita Uang & PerekonomianbyIvan Lanin·Jul 6Menanti Kabar dari Mas Hari#1289: Tentang Laba dan Arus Kas yang Berjalan Berlawanan ArahA response icon1A response icon1
InRuang KontemplasibyIvan Lanin·Jul 4Sasaran Terdekat#1288: Duka Mencari Arah, Amarah Salah AlamatA response icon1A response icon1